PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
AKIDAH (TAUHID)
ABSTRAK
Makalah
ini menjelaskan tentang aqidah, dan dimulai dengan pengertian aqidah,
hakikat aqidah . Selain itu diterangkan
juga pembagian aqidah , sebab-sebab
penyimpangan aqidah dan solusi atas penyimpangannya. Dijelaskan dalam
makalah ini bahwa aqidah itu merupakan sesuatu kebenaran yang diyakini dalam
hati berdasarkan dalil, wahyu (al-Qur`an as-Sunnah) yang berakibat dengannya
dapat mengendalikan perasaan seseorang yang kemudian membuat pemilik
perasaan-perasaan itu mampu mempertimbangkan dengan penuh ketelitian dalam
melakukan tindakan-tindakannya. Sehingga apa yang dilakukan adalah perbuatan
yang berdasarkan pada akidah atau keimanan bahwa Allah subhanahuwata`ala
melihat dan mengawasi kita di mana saja dan kapan saja.
Nilai-nilai
aqidah dalam kehidupan antara lain adalah nilai keyakinan dan nilai ketaatan,
sementara aqidah itu memiliki peranan besar dalam kehidupan, baik dalam
kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, beragama dan bernegara . Selain
juga di jelaskan bahwa akidah itu adalah keimanan, dan ia merupakan syarat
ditolak atau di terimanay suatu amal ibadah, jadi iman merupakan dasar atau
pondasi bagi seluruh amal perbuatan, demikian seorang itu akan tahu akan
penting dan urgennya untuk mengetahui dan memahami dengan ilmu yang benar
tentang akidah atau keimanan.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Manusia
pada awalnya diciptakan oleh dalam keadan fitrah, lurus dan bertauhid, kemudian syaitan menggelincirkannya, ,
artinya syaitan akan senantiasa berusaha menyesatkan mereka dari jalan yang lurus, dan memang Allah jadikan
syaitan sebagai ujian bagi anak cucu Adam , sehingga jadilah manusia sangat
sedikit yang bersyukur. Oleh karena itu,
manusia harus memiliki sesuatu yang dapat menjadi pegangan dalam menjalani
kehidupannya di dunia . Kalau di tanyakan, apa yang dijadikan sebagai pegangan
hidup bagi manusia? Terutama mereka yang mukmin
atau muslim? Maka Jawabannya adalah
aqidah yang benar, yang hal itu pada hakekatnya sangatlah diperlukan dalam
kehidupan seorang hamba , bahkan melebihi kebutuhan akan makan dan minum,
sehingga dalam menjalanin kehidupan tidak berjalan seperti layaknya kehidupan
dizaman jahiliyah.
Dasar
pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah aqidah yang lurus dan benar,
karena akhlak adalah buah dari aqidah ,
sehingga dapat dikatakan bahwa aqidah yang rusak akan tergambar pada aklak dan
tingkah laku yang buruk, atau aklak dan tingkah laku yang buruk adalah pancaran
dari aqidah yang rusak pula. Aqidah
seseorang akan benar dan lurus jika kepercayaan dan keyakinannya terhadap Allah,
MalaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari Akhir dan Keimanannya kepada
Taqdir Allah juga lurus dan benar.
Oleh
karena begitu sangat urgennya pembahasan tentang aqidah inilah yang membuat
penulis tertarik untuk mengulas sedikit tentang aqidah dalam kehidupan.
1.2
Rumusan Masalah
Untuk
mengkaji dan mengulas tentang aqidah dalam kehidupan, maka diperlukan subpokok
bahasan yang saling berhubungan, sehingga penulis membuat rumusan masalah
sebagai berikut:
- Apa pengertian dan hakikat aqidah?
- Apa pembagian aqidah (tauhid) itu?
- Apa saja yang menjadi penyebab terjadinya penyimpangan dalam aqidah?
- Bagaimana cara menanggulangi penyimpangan dalam aqidah ?
1.3
Tujuan dan Manfaat Penulisan
Dari rumusan masaah
di atas maka kita dapat mengambil tujuan sebagai berikut
- Untuk mengetahui pengertian dari aqidah
- Untuk mengetahui pembagian aqidah (tauhid)
- Untuk mengetahui sebab-sebab penyimpangan akidah
- Untuk mengetahui cara-cara menanggulangi penyimpangan akidah
Manfaat
dari penulisan makalah ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan penulis dan
pembaca tentang aqidah dalam kehidupan dan dapat diimplementasikan dalan
kehidupan.
1.4
Metode Penulisan
Penulis
memakai metode studi literatur dan kepustakaan dalam penulisan makalah ini.
Referensi makalah ini bersumber tidak hanya dari buku, tetapi juga dari media
media lain seperti e-book, web, blog, dan perangkat media massa yang diambil
dari internet.
1.5
Sistematika Penulisan
Makalah
ini disusun menjadi tiga bab, yaitu bab pendahuluan, bab pembahasan, dan bab
penutup. Adapun bab pendahuluan terbagi atas : latar belakang, rumusan makalah,
tujuan dan manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Sedangkan bab pembahasan dibagi berdasarkan subbab yang berkaitan dengan
pengertian dan hakikat aqidah, pembagian
aqidah (tauhid), sebab-sebab penyimpangan akidah dan cara-cara menanggulanginya. Terakhir, bab
penutup terdiri atas kesimpulan.
BAB II
RUANG LINGKUP AJARAN
ISLAM – AKIDAH (Tauhid)
Aqidah
yang benar dan lurus merupakan sumber persepsi dan pemikiran. Bahkan ia
merupakan syarat diterima dan ditolaknya
amal ibadah seseorang, aqidah juga merupakan alat pemersatu dan pemererat tali persaudaraan antara sesama muslim atau ia
adalah asas hukum dan syari’at, dan
merupakan sumber keutamaan dan akhlaq. Bahkan dengan modal aqidah yang benarlah telah lahir para mujahid (para pejuang)
di medan jihad.
2.1 Pengertian dan
Hakikat Akidah
2.1.1 Pengertian Akidah
2.1.1.1. Menurut
bahasa (etimology)
. Aqidah berasal dari perkataan bahasa
Arab yaitu اَلْعَقِيْدَةُ kata dasar al-aqd yaitu al-Rabith (ikatan), al-Ibram
(pengesahan), al-Ahkam (penguatan), al-Tawutsiq (menjadi kokoh,
kuat), al-syadd bi quwwah (pengikatan dengan kuat), dan al-Itsbat
(penetapan).
Aqidah
merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada
sesuatu.
2.1.1.2. Sedangkan
menurut istilah (terminologi)
Aqidah yaitu iman kepada Allah, para
MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya dan Kepada Hari Akhir serta kepada
qadar yang baik mapun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.
Sedangkan
akidah menurut istilah secara umum yaitu
keimanan yang pasti kepada Allah dan apa saja yang wajib diimani dalam hal
rububiyah, uluhiyah,serta nama-nama dan sifat-sifatNYa, iman kepada para
malaikat, kitab-kitab , para rasulNya, hari kiamat dan iman kepada takdir Allah
yang baik ataupun yang buruk dan beriman dengan apa saja yang datang dari nash
Al-Quran dan As-Sunnah yang sahih dari perkara dasar-dasar agama , hal yang
berkaitan dengan perkara yang gaib yang diberitakannya, serta apa saja yang
telah di sepakati oleh para salafus Sholeh.
Dengan
demikian pengertian aqidah tidak keluar dari pengertian Iman menurut istilah,
sebagaimana pertanyaan malaikat Jibril
kepada Rasulullah.
2.1.2.
Hakekat Akidah
Sesungguhnya
seseorang akan benar akidah bila imannya lurus, sehingga itu menjadi syarat
diterima atau tidaknya amal ibadahnya. Dapat dikatakan seorang itu benar dan lurus
akidahnya jika benar dan lurus keimanannya. Artinya berilmunya seseorang
tentang rukun iman yang enam dan dia realisasikan dalam kehidupan, maka dapat
dikatakan bahwa akidahnya sudah benar dan lurus, betu juga sebaliknya.
Sudah menjadi hal yang tidak dapat
di pungkiri bahwa iman itu dibarengi oleh keilmuan dan amaliyah.
Dengan demikian benar apa yang
disebutkan oleh Allah bahwa setiap manusia itu berada dalam kerugian, kecuali
orang yang beriman (dengan ilmu) dan beramal kebajikan, nasehat-menasehati
dalam kebenaran dan nasehat-menasehati dalam kesabaran, sebagai terdapat dalam
surat al-Ashr.
Sementara
imam A-Bukhari menyebtkan dalam kitab shahihnya dalam bab “Al-Ilmu qablal qaul
wal amal”, (dalam pembahasan kewajiban berilmu sebelym berkata dan berbuat)
artinya perintah untuk berilmu dulu baru setelah itu berkata dan berbuat.
Ini semua menunjukkan bahwa akidah
atau keyakinan seseorang adalah keimanannya itu sendiri, sehingga tidak dapat
dipisahkan sebaimana dua belah mata keeping logam.
Maka dapat disimpulkan akidah
seseorang itu adalah keimanannya terhadap rukun iman; (beriman kepada Allah,
MalaikatNYa, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, kepada hari Kiamat dan kepada
taqdir baik dan buruk).
2.1.2.1.
Urgensi Akidah Sebagai Landasan Agama
Syariat
terbagi dua : i`tiqadiyah dan amaliyah.
I`tiqadiyah
adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal. Seperti i`tiqad
(kepercayaan) terhadap rububiyah Allah dan kewajiban beribadah kepadaNya, juga
i`tiqad terhadap rukun-rukun iman yang
lain. Hal ini disebut ashliyah (pokok agama)
Sedang
amaliyah adalah segala yang berhubungan
dengan tata cara amal, seperti shalat, zakat, puasa dan seluruh
hokum-hukum amaliyah. Bagian ini disebut far`iyah (cabang agama), karena ia
dibangun din atas i`tiqadiyah. Dan rusaknya amaliyah tergantung dari benar dan
rusaknya i`tiqadiyah.
Maka
aqidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat
sahnya amal.
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا
إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ
عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (110)
18:110. Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini
hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa
sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Allah Yang Maha Mengetahui". Barang
siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal
yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada
Tuhannya".
Ayat-ayat
di atas dan yang senada, yang jumlahnya banyak, menunjukkan bahwa segala amal
tidak diterima jika tidak bersih dari syirik. Karena itulah perhatian Nabi yang
pertama kali adalah pelurusan aqidah. Dan hal pertama yang didakwahkan para
rasul kepada umatnya adalah menyembah Allah semata dan meninggalkan segala yang
dituhankan selain Dia.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا
اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
16:36. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus
rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan
jauhilah Thaghut itu.
Pernyataan
terebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu`aib dan seluruh rasul. Selama
13 tahun di Makkah-sesudah bi`tsh-Nabi mengajak manusia kepada tauhid dan
pelurusan akidah, karena hal itu merupakan landasan bangunan Islam. Para da`i
dan para pelurus agama dalam setiap masa telah mengikuti jejak para rasul dalam
berdakwa. Sehingga mereka memulai dengan dakwah kepada tauhid dan pelurusan
akidah, setelah itu mereka mengajak seluruh perintah agama yang lain.
2.1.2.2.
Sumber-sumber Aqidah Yang Benar dan Manhaj Salaf Dalam Mengambil Akidah
Aqidah adalah rauqifiyah. Artinya,
tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil syar`i, tidak ada medan ijtihad dan
berpendapat di dalamnya terbatas kepada apa yang ada di dalam al-Quran dan
as-Sunnah. Sebab tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah, tentang
apa-apa yang wajib bagiNya dan apa yang harus disucikan dariNya melainkan Allah
sendiri. Dan tidak seorangpun sesudah
Allah yang lebih mengetahui tentang Allah selain Rasulullah. Oleh karena
itu manhaj as-salaf ash-shalih dan para pengikutnya dalam mengambil akidah,
terbatas pada al-Qur`an dan as-Sunnah.
Maka segala yang ditunjukkan oleh
al-Qur`an dan as-Sunnah tentang hak Allah, mereka mengimani, menyakini dan
mengamalkannya, sedang apa yang tidak ditunjukkan oleh al-Qur`an dan as-Sunnah,
mereka menolak dan menafikannya dari Allah. Karena itu, tidak ada pertentangan
di antara mereka di dalam i`tiqad. Bahkan aqidah mereka adalah satu dan jamaah
mereka juga satu. Karena Allah sudah menjamin orang yang berpegang teguh dengan
al-Qur`an dan as-Sunnah RasulNya dengan kesatuan kata, kebenaran akidah dan
kesatuan manhaj.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
3:103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada
tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ
فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
20:123. Maka jika datang kepadamu petunjuk
daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat
dan tidak akan celaka.
Karena itulah mereka
dinamakan firqah najiyah (golongan yang
selamat). Sebab Rasulullah telah bersaksi bahwa merekalah yang selamat, ketika
memberitahukan bahwa umat ini akan
terpecah menjadi 73 golongan yang kesemuanya di neraka, kecuali satu golongan .
Ketika ditanya tentang yang satu itu, beliau menjawab,
افْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى
وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتْ
النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ
وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي
عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ
فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ
Sunan
Ibnu Majah 3982: Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin 'Utsman bin Sa'id bin
Katsir bin Dinar Al Himshi telah menceritakan kepada kami 'Abbad bin Yusuf
telah menceritakan kepada kami Shafwan bin 'Amru dari Rasyid bin Sa'd dari 'Auf
bin Malik dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Orang-orang Yahudi akan terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu
golongan akan masuk surga dan yang tujuh puluh golongan akan masuk neraka. Dan
orang-orang Nashrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, yang tujuh
puluh satu golongan masuk neraka dan yang satu golongan akan masuk surga. Demi
Dzat yang jiwa Muhammad ada ditangan-Nya, sungguh ummatku akan terpecah menjadi
tujuh puluh tiga golongan, yang satu golongan masuk surga dan yang tujuh puluh
dua golongan akan masuk neraka." Lalu beliau ditanya, "Wahai
Rasulullah, siapakah mereka (yang masuk surga)?" beliau mennjawab:
"Yaitu Al Jama'ah."
2.1.2.3. Pembagian aqidah (tauhid)
Secara
umum bahwa pembagian aqidah atau tauhid itu ada dua:
1)
Tauhidullah
2)
Tauhidurrasul
Adapun
tauhidullah maksudnya adalah mengesakan Allah dalam hal rububiyah, uluhiyah
serta nama-nama dan sifat-sifatNya. Sedangkan tauhid rububiyah adalah
mengesakan Allah dalam hal penciptaan, artinya Allahlah yang satu-satunya Maha
Pencipta seluruh alam semesta, tauhid uluhiya artinya mengesakan Allah dalam
hal peribadatan, maksudnya semua dari macam ibadah wajib ditujukan dan
diniatkan hanya untukNya tidak berbuat syirik. Tauhid nama dan sifatNya artinya
mengesakan Allah dalam hal nama dan sifatNya, maksudnya mensucikan Allah pada nama dan sifat yang tidak layak bagi
Allah, dan tidak menyerupakanNya dengan sesuatu apapun.
Adapun
tauhidurrasul maksudnya mengesakan rasulullah dalam hal ketundukan, ketaatan,
kepasrahan terhadap apa saja yang dia bawa, dalam arti kita tidak butuh kepada
syariat selain ajaran yang dituntunkan dan diajarkan oleh Rasulullah, sehingga
kita wajib melaksanakan apa saja yang diperintahkannya dan menajauhi apa saja
yang dilarangnya, membernarkan dari apa-apa yang di beritakannya baik yang
berkenaan masa lalu, sedang terjadi, yang akan dating maupun yang berkaitan
tentang hari kemudian serta kita tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan
apa yang telah ia syariatkan dalam sunnah-sunnahnya.
2.1.2.4. Sebab-sebab
Penyimpangan Aqidah
Penyimpangan dari aqidah yang benar
adalah kehancuran dan kesesatan. Karena akidah yang benar merupakan motivator
ulama bagi amal yang bermanfaat.
Tanpa
akidah yang benar, sesorang akan menjadi mangsa bagi persangkaan dan
keragu-raguan yang lama-kelamaan mungkin menumpuk dan menghalangi dari
pandangan yang benar terhadap jalan hidup kebahagiaan, sehingga hidupnya terasa
sempit lalu ia ingin terbebas dari kesempitan tersebut dengan menyudahi hidup,
sekalipun dengan bunuh diri, sebagaimana yang terjadi pada banyak orang yang
telah kehilangan hidayah akidah yang benar. Masyarakat yang tidak dipimpin oleh
aqidah yang benar merupakan masyarakat bahami (hewani) tidak memiliki
prinsip-prinsip hidup bahagia, sekalipun bergelimang materi tetapi terkadang
justru sering menyeret mereka pada kehancuran, sebagaimana yang kita lihat pada
masyarakat jahiliyah. Karena sesungguhnya kekayaan materi memerlukan taujih
(pengarahan) dalam penggunaannya, dan tidak ada pemberi arahan yang benar
kecuali akidah shahihah.
Maka kekuatan akidah tidak boleh
dipisahkan dari kekuatan madiyah (materi). Jika hal itu dilakukan dengan
menyeleweng kepada akidah batil, maka kekuatan materi akan berubah menjadi
sarana pengahncur dan alat perusak, seperti yang terjadi di Negara-negara kafir
yang memiliki materi, tetapi tidak memiliki akidah shahihah.
Sebab-sebab penyimpangan dari akidah
shahihah yang harus kita ketahui:
1)
Kebodohan
terhadap aqidah shahihah.
Karena
tidak mau (enggan) mempelajari dan mengajarkannya, atau karena kurangnya
perhatian terhadapnya, sehingga tumbuh suatau generasi yang tidak mengenal
akidah shahihah dan juga tidak mengetahui lawan atau kebalikannya. Akibatnya,
mereka menyakini yang haq sebagai sesuatu yang batil dan yang batil dianggap
sebagai yang haq.
Sebagaimana yang yang pernah
dikatakan oleh Umar..
ويروي عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه انه قال : إنما تنقض عرى
الإسلام عروة عروة إذا نشأ في الإسلام
من لا يعرف الجاهلية
“Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan
pudar satu demi satu, manakala didalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa
mengenal kejahilan”
2)
Ta`ashushub
(fanatik) kepada susuatu yang diwarisi dari bapak dan nenek moyangnya,
sekalipun hal itu batil, mencampakkan apa yang menyalahinya, sekalipun itu
benar.
Sebagaimana
yang difirmankan Allah :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ
نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا
يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
2:170. Dan apabila dikatakan kepada mereka:
"Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab:
"(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari
(perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga),
walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak
mendapat petunjuk?"
3)
Taklid buta, dengan
mengambil pendapat manusia dalam masalah akidah tanpa mengetahui dalilnya dan
tanpa menyelidiki seberapa jauh kebenarannya, sebagaimana yang terjadi pada
golongan-golongan seperti Mu`tazilah, Jahmiyah dan lainnya. Mereka bertaklid
kepada orang-orang sebelum mereka dari pemimpin yang sesat, sehingga mereka
juga sesat, jauh dari akidah shahihah.
4)
Ghuluw (berlebihan) dalam
mencintai para wali dan orang-orang shalih, serta mengangkat mereka di atas
derajat yang semestinya, sehingga menyakini pada diri mereka sesuatu yang tidak
mampu dilakukan kecuali oleah Allah, baik berupa mendatangkan kemanfatan mapun
menolak kemudharatan, juga menjadikan para wali itu sebagai perantara antara
Allah dan maklukkNy, sehingga sampai pada tingkat penyembahan para wali
tersebut dan bukan menyembah Allah. Mereka bertakarrub kepada kuburan para wali
tiu dengan hewan kurban, nazar, do`a, nistighatsah dan meminta pertolongan. Sebagaimana yang terjadi pada
kaum Nabi Nuh terhadap orang-orang shalih ketika mereka berkata,
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا
سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
71:23. Dan mereka berkata: "Jangan
sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula
sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa', yaghuts,
ya'uq dan nasr".
Dan demikianlah yang
terjadi pada pengagung-pengagung kuburan di berbagai negeri sekarang ini.
5)
Ghaflah
(lalai) terhadap perenungan ayat-ayat Allah yang terhampar di jagat raya ini
(ayat kauniyah) dan ayat-ayat Allah yang tertuang dalam kitabNya (ayat-ayat
Qur`aniyah) Disamping itu, juga terbuai
dengan hasil-hasil teknologi dan kebudayaan, sampai-sampai mengira bahwa itu
semua adalah hasil kreasi manusia semata, sehingga mereka mengagun-agungkan manusia serta
menisbatkann seluruh kemajuan ini kepada jerih payah dan penemuan manusia
semata.
6)
Pada
umumnya rumah tangga sekarang ini kosong dari pengarahan yang benar (menurut
Islam). Padahal Rasulullah telah bersabda,
4714
حدثنا
القعنبي عن مالك عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله
عليه وسلم كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه وينصرانه كما تناتج الإبل من
بهيمة جمعاء هل تحس من جدعاء قالوا يا رسول الله أفرأيت من يموت وهو صغير قال الله
أعلم بما كانوا عاملين
صحيح الترمذي ( 2237 ) // صحيح
الجامع ( 4560 ) ، الإرواء ( 1220 )
Sunan
Abu Daud 4091: Telah menceritakan kepada kami Al Qa'nabi dari Malik dari Abu Az
Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: "Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah,
maka kedua orang tuannya-lah yang menjadikan ia yahudi atau nashrani.
Sebagaimana unta melahirkan anaknya yang sehat, apakah kamu melihatnya memiliki
aib?" Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan
orang yang meninggal saat masih kecil?" Beliau menjawab: "Allah lebih
tahu dengan yang mereka lakukan."
Jadi,
orang tua mempunyai peranan besar dalam meluruskan jalan hidup anak-anaknya.
7)
Enggannya
media pendidikan dan media informasi melaksanakan tugasnya. Kurikulum
pendidikan kebanyakan tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap pendidikan
agama Islam, bahkan ada yang tidak perduli sama sekali. Sedangkan media
informasi, baik media cetak maupun elektronik berubah menjadi sarana penghancur
dan perusak, atau paling tidak hanya memfokuskan pada hal-hal yang bersifat
materi dan hiburan semata, tidak memperhatikan hal-hal yang dapat meluruskan
moral dan akidah serta menangkis aliran-aliran sesat. Dari sini, muncullah
generasi yang telanjang tanpa senjata, yang tak berdaya di hadapan pasukan
kekufuran yang lengkap persenjataannya.
2.1.2.5 . Cara-cara
Penanggulangan Penyimpangan Aqidah Tauhid
Cara menanggulangi penyimpangan di
atas teringkas dalam poin-poin berikut ini :
1)
Kembali
kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah untuk mengambil akidah shahihah.
Sebagaimana para Salaf Sahlih mengambil akidah mereka dan keduanya. Tidak akan
dapat memperbaiki akhir umat ini kecuali apa yang telah memperbaiki umat
pendahulunya. Juga dengan mengkaji akidah golongan sesat dan mengenal
syubhat-syubhat mereka untuk kita bantah dan kita waspadai, karena siapa saja
yang tidak mengenal keburukan, ia dikhawatirkan terperosok ke dalamnya.
2)
Memberi
perhatian pada pengajaran akidah shahihah, akidah Salaf, diberbagai jenjang
pendidkan. Memberi jam pelajaran yang cukup serta mengadakan evaluasi yang
ketat dalam menyajikan materi.
3)
Harus
ditetapkan kitab-kitab salaf yang bersih sebagai materi pelahjaran. Sedangkan
kitab-kitab kelompok penyeleweng harus di jauhkan.
4)
Menyebar
para da`I yang meluruskan akidah umat Islam dengan mengajarkan akidah salaf
serta menjawab dan menolak seluruh akidah batil.
BAB III
PENUTUP
Demikian
yang dapat penyusun paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam
makalah ini, Penyusun menyimpulkan masih banyak kekurangan dan kelemahannya,
karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada
hubungannya dengan judul makalah ini. Penyusun banyak berharap para pembaca
yang budiman dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penyusun
demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah dikesempatan – kesempatan
berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penyusun pada khususnya juga para
pembaca yang budiman pada umumnya.
3.1. Kesimpulan
3.1.1. Pengertian
aqidah secara bahasa (etimologi)
Aqidah
berasal dari perkataan bahasa Arab yaitu اَلْعَقِيْدَةُ kata dasar al-aqd yaitu al-Rabith (ikatan), al-Ibram
(pengesahan), al-Ahkam (penguatan), al-Tawutsiq (menjadi kokoh,
kuat), al-syadd bi quwwah (pengikatan dengan kuat), dan al-Itsbat
(penetapan).
3.1.2. Pengertian
aqidah secara istilah (terminology)
Aqidah
yaitu iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya dan
Kepada Hari Akhir serta kepada qadar yang baik mapun yang buruk. Hal ini
disebut juga sebagai rukun iman.
3.1.3. Pembagian
aqidah tauhid
Secara
umum bahwa pembagian aqidah atau tauhid itu ada dua:
1)
Tauhidullah
2)
Tauhidurrasul
3.1.4. Sebab-sebab penyimpangan
aqidah tauhid
Sebab-sebab
penyimpangan dari akidah shahihah yang harus kita ketahui:
1)
Kebodohan
terhadap aqidah shahihah.
2)
Ta`ashushub
(fanatik) kepada susuatu yang diwarisi dari bapak dan nenek moyangnya,
sekalipun hal itu batil, mencampakkan apa yang menyalahinya, sekalipun itu
benar.
3)
Taklid buta, dengan
mengambil pendapat manusia dalam masalah akidah tanpa mengetahui dalilnya dan
tanpa menyelidiki seberapa jauh kebenarannya, sebagaimana yang terjadi pada
golongan-golongan seperti Mu`tazilah, Jahmiyah dan lainnya.
4) Ghuluw (berlebihan) dalam
mencintai para wali dan orang-orang shalih. Dan demikianlah yang terjadi
pada pengagung-pengagung kuburan di berbagai negeri sekarang ini.
5)
Ghaflah
(lalai) terhadap perenungan ayat-ayat Allah yang terhampar di jagat raya ini
(ayat kauniyah) dan ayat-ayat Allah yang tertuang dalam kitabNya (ayat-ayat
Qur`aniyah) Disamping itu, juga terbuai
dengan hasil-hasil teknologi dan kebudayaan, sampai-sampai mengira bahwa itu
semua adalah hasil kreasi manusia semata, sehingga mereka mengagun-agungkan manusia serta
menisbatkann seluruh kemajuan ini kepada jerih payah dan penemuan manusia
semata.
6)
Pada
umumnya rumah tangga sekarang ini kosong dari pengarahan yang benar (menurut
Islam). Padahal Rasulullah telah bersabda,
7)
Enggannya
media pendidikan dan media informasi melaksanakan tugasnya.
3.1.5. Cara-cara Penanggulangi
Penyimpangan Aqidah Tauhid
Cara menanggulangi penyimpangan di
atas teringkas dalam poin-poin berikut ini :
1)
Kembali
kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah untuk mengambil akidah shahihah.
Sebagaimana para Salaf Sahlih mengambil akidah mereka dan keduanya. Tidak akan
dapat memperbaiki akhir umat ini kecuali apa yang telah memperbaiki umat
pendahulunya. Juga dengan mengkaji akidah golongan sesat dan mengenal
syubhat-syubhat mereka untuk kita bantah dan kita waspadai, karena siapa saja
yang tidak mengenal keburukan, ia dikhawatirkan terperosok ke dalamnya.
2)
Memberi
perhatian pada pengajaran akidah shahihah, akidah Salaf, diberbagai jenjang
pendidkan. Memberi jam pelajaran yang cukup serta mengadakan evaluasi yang
ketat dalam menyajikan materi.
3)
Harus
ditetapkan kitab-kitab salaf yang bersih sebagai materi pelahjaran. Sedangkan
kitab-kitab kelompok penyeleweng harus di jauhkan.
4)
Menyebar
para da`I yang meluruskan akidah umat Islam dengan mengajarkan akidah salaf
serta menjawab dan menolak seluruh akidah batil.
Daftar Pustaka
Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan bin
Abdullah “Kitab Tauhid” Jakarta : Darul Haq, 1998
Al-Utsaimin, Muhammad bin
Shaleh,”Syarhul Aqidatil Wasithiyah” Darul Tsiriya
A415 H
Hasan Basri, Abu Ahsan Sirojuddin Lc,
“Syarah Hadits Arba`in (dalam bahasa Indonesia), Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta :
2012
Al-Utsaimin, Muhammad bin Shaleh,
“Syrhul Arba`iin an-Nawawiyyah” Yayasan Kabajikan Syaikh Muhammad bin Shalih
al-Utsaimin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar