MAHA SISWA PASCA SARJANA UIN SUSKA PEKANBARU
Kamis, 19 Desember 2013
Senin, 18 November 2013
Rabu, 06 November 2013
JADWAL KULLIYAH MPI 1 L2 UIN PEKANBARU RIAU 09-10 /11/2013
JADWAL KULLIYAH
MPI 1 L2 UIN PEKANBARU RIAU
09-10 /11/2013
NO
|
HARI/TGL
|
JAM
|
MATA KULLIYAH
|
DOSEN
|
KETERANGAN
|
1
|
SABTU/09/11/2013
|
13.30 – 18.00
|
METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN
|
ZAMSISWAYA
|
MOHON TEPAT WAKTU
|
2
|
AHAD/10/11/2013
|
08.00 – 13.00
|
METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN
|
ZAMSISWAYA
|
Jumat, 01 November 2013
Sabtu, 26 Oktober 2013
Perkembangan Filsafat Ilmu2
Perkembangan Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu sebagai bagian integral dari filsafat
secara keseluruhan perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari sejarah
perkembangan filsafat itu sendiri secara keseluruhan. Menurut Lincoln Cuba,
sebagai yang dikutip oleh Ali Abdul Azim, bahwa kita mengenal tiga babakan
perkembangan paradigma dalam filsafat ilmu di Barat yaitu era prapositivisme,
era positivisme dan era pasca modernisme. Era prapositivisme adalah era paling
panjang dalam sejarah filsafat ilmu yang mencapai rentang waktu lebih dari dua
ribu tahun.
Dalam uraian ini, penulis cenderung mengklasifikasi perkembangan filsafat ilmu berdasarkan ciri khas yang mewarnai pada tiap fase perkembangan. Dari sejarah panjang filsafat, khususnya filsafat ilmu, penulis membagi tahapan perkembangannya ke dalam empat fase sebagai berikut:
1.Filsafat Ilmu zaman kuno, yang dimulai sejak munculnya filsafat sampai dengan munculnya Renaisance
2.Filsafat Ilmu sejak munculnya Rennaisance sampai memasuki era positivisme
3.Filsafat Ilmu zaman Modern, sejak era Positivisme sampai akhir abad kesembilan belas
4.Filsafat Ilmu era kontemporer yang merupakan perkembangan mutakhir Filsafat Ilmu sejak awal abad keduapuluh sampai sekarang.
Perkembangan Filsafat ilmu pada keempat fase tersebut akan penulis uraikan dengan mengedepankan aspek-aspek yang mewarnai perkembangan filsafat ilmu di masanya sekaligus yang menjadi babak baru dan ciri khas fase tersebut yang membedakannya dari fase-fase sebelum dan atau sesudahnya. Di samping itu penulis juga akan mengungkap tentang peran filosof muslim dalam perkembangan filsafat ilmu ini, walaupun bukan dalam suatu fase tersendiri.
A. Filsafat Ilmu Zaman Kuno
Filsafat yang dipandang sebagai induk ilmu pengetahuan telah dikenal manusia pada masa Yunani Kuno. Di Miletos suatu tempat perantauan Yunani yang menjadi tempat asal mula munculnya filsafat, ditandai dengan munculnya pemikir-pemikir (baca: filosof) besar seperti Thales, Anaximandros dan Anaximenes. Pemikiran filsafat yang memiliki ciri-ciri dan metode tersendiri ini berkembang terus pada masa selanjutnya.
Pada zaman Yunani Kuno filsafat dan ilmu merupakan suatu hal yang tidak terpisahkan. Keduanya termasuk dalam pengertian episteme yang sepadan dengan kata philosophia. Pemikiran tentang episteme ini oleh Aristoteles diartikan sebagaian organized body of rational konwledge with its proper object. Jadi filsafat dan ilmu tergolong sebagai pengetahuan yang rasional. Dalam pemikiran Aritoteles selanjutnya pengetahuan rasional itu dapat dibedakan menjadi tiga bagian yang disebutnya dengan praktike (pengetahuan praktis), poietike (pengetahuan produktif), dan theoretike (pengetahuan teoritis). .
Pemikirannya hal tersebut oleh generasi-generasi selanjutnya memandang bahwa Aristoteleslah sebagai peletak dasar filsafat ilmu.
Selama ribuan tahun sampai dengan akhir abad pertengahan filsafat logika Aristoteles diterima di Eropa sebagai otoritas yang besar. Para pemikir waktu itu mengaggap bahwa pemikiran deduktif (logika formal atau sillogistik) dan wahyu sebagai sumber pengetahuan.
B. Filsafat Ilmu Era Renaisance
Memasuki masa Rennaisance, otoritas Aritoteles tersisihkan oleh metode dan pandangan baru terhadap alam yang biasa disebut Copernican Revolution yang dipelopori oleh sekelompok sanitis antara lain Copernicus (1473-1543), Galileo Galilei (1564-1542) dan Issac Newton (1642-1727) yang mengadakan pengamatan ilmiah serta metode-metode eksperimen atas dasar yang kukuh.
Selanjutnya pada Abad XVII, pembicaraan tentang filsafat ilmu, yang ditandi dengan munculnya Roger Bacon (1561-1626). Bacon lahir di ambang masuknya zaman modern yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan.
Bacon menanggapi Aristoteles bahwa ilmu sempurna tidak boleh mencari untung namun harus bersifat kontemplatif. Menurutnya Ilmu harus mencari untung artinya dipakai untuk memperkuat kemampuan manusia di bumi, dan bahwa dalam rangka itulah ilmu-ilmu berkembang dan menjadi nyata dalam kehidupan manusia. Pengetahuan manusia hanya berarti jika nampak dalam kekuasaan mansia; human knowledge adalah human power.
Perkembangan ilmu pengetahuan modern yang berdasar pada metode eksperimental dana matematis memasuki abad XVI mengakibatkan pandangan Aritotelian yang menguasai seluruh abad pertengahan akhirnya ditinggalkan secara defenitif.
Dalam uraian ini, penulis cenderung mengklasifikasi perkembangan filsafat ilmu berdasarkan ciri khas yang mewarnai pada tiap fase perkembangan. Dari sejarah panjang filsafat, khususnya filsafat ilmu, penulis membagi tahapan perkembangannya ke dalam empat fase sebagai berikut:
1.Filsafat Ilmu zaman kuno, yang dimulai sejak munculnya filsafat sampai dengan munculnya Renaisance
2.Filsafat Ilmu sejak munculnya Rennaisance sampai memasuki era positivisme
3.Filsafat Ilmu zaman Modern, sejak era Positivisme sampai akhir abad kesembilan belas
4.Filsafat Ilmu era kontemporer yang merupakan perkembangan mutakhir Filsafat Ilmu sejak awal abad keduapuluh sampai sekarang.
Perkembangan Filsafat ilmu pada keempat fase tersebut akan penulis uraikan dengan mengedepankan aspek-aspek yang mewarnai perkembangan filsafat ilmu di masanya sekaligus yang menjadi babak baru dan ciri khas fase tersebut yang membedakannya dari fase-fase sebelum dan atau sesudahnya. Di samping itu penulis juga akan mengungkap tentang peran filosof muslim dalam perkembangan filsafat ilmu ini, walaupun bukan dalam suatu fase tersendiri.
A. Filsafat Ilmu Zaman Kuno
Filsafat yang dipandang sebagai induk ilmu pengetahuan telah dikenal manusia pada masa Yunani Kuno. Di Miletos suatu tempat perantauan Yunani yang menjadi tempat asal mula munculnya filsafat, ditandai dengan munculnya pemikir-pemikir (baca: filosof) besar seperti Thales, Anaximandros dan Anaximenes. Pemikiran filsafat yang memiliki ciri-ciri dan metode tersendiri ini berkembang terus pada masa selanjutnya.
Pada zaman Yunani Kuno filsafat dan ilmu merupakan suatu hal yang tidak terpisahkan. Keduanya termasuk dalam pengertian episteme yang sepadan dengan kata philosophia. Pemikiran tentang episteme ini oleh Aristoteles diartikan sebagaian organized body of rational konwledge with its proper object. Jadi filsafat dan ilmu tergolong sebagai pengetahuan yang rasional. Dalam pemikiran Aritoteles selanjutnya pengetahuan rasional itu dapat dibedakan menjadi tiga bagian yang disebutnya dengan praktike (pengetahuan praktis), poietike (pengetahuan produktif), dan theoretike (pengetahuan teoritis). .
Pemikirannya hal tersebut oleh generasi-generasi selanjutnya memandang bahwa Aristoteleslah sebagai peletak dasar filsafat ilmu.
Selama ribuan tahun sampai dengan akhir abad pertengahan filsafat logika Aristoteles diterima di Eropa sebagai otoritas yang besar. Para pemikir waktu itu mengaggap bahwa pemikiran deduktif (logika formal atau sillogistik) dan wahyu sebagai sumber pengetahuan.
B. Filsafat Ilmu Era Renaisance
Memasuki masa Rennaisance, otoritas Aritoteles tersisihkan oleh metode dan pandangan baru terhadap alam yang biasa disebut Copernican Revolution yang dipelopori oleh sekelompok sanitis antara lain Copernicus (1473-1543), Galileo Galilei (1564-1542) dan Issac Newton (1642-1727) yang mengadakan pengamatan ilmiah serta metode-metode eksperimen atas dasar yang kukuh.
Selanjutnya pada Abad XVII, pembicaraan tentang filsafat ilmu, yang ditandi dengan munculnya Roger Bacon (1561-1626). Bacon lahir di ambang masuknya zaman modern yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan.
Bacon menanggapi Aristoteles bahwa ilmu sempurna tidak boleh mencari untung namun harus bersifat kontemplatif. Menurutnya Ilmu harus mencari untung artinya dipakai untuk memperkuat kemampuan manusia di bumi, dan bahwa dalam rangka itulah ilmu-ilmu berkembang dan menjadi nyata dalam kehidupan manusia. Pengetahuan manusia hanya berarti jika nampak dalam kekuasaan mansia; human knowledge adalah human power.
Perkembangan ilmu pengetahuan modern yang berdasar pada metode eksperimental dana matematis memasuki abad XVI mengakibatkan pandangan Aritotelian yang menguasai seluruh abad pertengahan akhirnya ditinggalkan secara defenitif.
C. Filsafat Ilmu Era Positivisme
Memasuki abad XIX perkembangan Filsafat Ilmu memasuki Era Positivisme. Positivisme adalah aliran filsafat yang ditandai dengan evaluasi yang sangat terhadap ilmu dan metode ilmiah. Aliran filsafat ini berawal pada abad XIX. Pada abad XX tokoh-tokoh positivisme membentuk kelompok yang terkenal dengan Lingkaran Wina, di antaranya Gustav Bergman, Rudolf Carnap, Philip Frank Hans Hahn, Otto Neurath dan Moritz Schlick.
Pada penghujung abad XIX (sejak tahun 1895), pada Universitas Wina Austria telah diajarkan mata kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan Induktif. Hal ini memberikan indikasi bahwa perkembangan filsafat ilmu telah memasuki babak yang cukup menentukan dan sangat berpengaruh terhadap perkembangan dalam abad selanjutnya.
Memasuki abad XX perkembangan filsafat ilmu memasuki era baru. Sejak tahun 1920 panggung filsafat ilmu pengetahuan didominasi oleh aliran positivisme Logis atau yang disebut Neopositivisme dan Empirisme Logis. Aliran ini muncul dan dikembangkan oleh Lingkaran Wina (Winna Circle, Inggris, Wiener Kreis, Jerman). Aliran ini merupakan bentuk ekstrim dari Empirisme. Aliran ini dalam sejarah pemikiran dikenal dengan Positivisme Logic yang memiliki pengaruh mendasar bagi perkem-bangan ilmu. Munculnya aliran ini akibat pengaruh dari tiga arah. Pertama, Emperisme dan Positivisme. Kedua, metodologi ilmu empiris yang dikembangkan oleh ilmuwan sejak abad XIX, dan Ketiga, perkembangan logika simbolik dan analisa logis.
Secara umum aliran ini berpendapat bahwa hanya ada satu sumber pengetahuan yaitu pengalaman indrawi. Selain itu mereka juga mengakui adanya dalil-dalil logika dan matematika yang dihasilkan lewat pengalaman yang memuat serentetan tutologi -subjek dan predikat yang berguna untuk mengolah data pengalaman indrawi menjadi keseluruhan yang meliputi segala data itu.
Lingkaran Wina sangat memperhatikan dua masalah, yaitu analisa pengetahuan dan pendasaran teoritis matematika, ilmu pengetahuan alam, sosiologi dan psikologi. Menurut mereka wilayah filsafat sama dengan wilayah ilmu pengetahuan lainnya. Tugas filsafat ialah menjalankan analisa logis terhadap pengetahuan ilmiah. Filsafat tidak diharapkan untuk memecahkan masalah, tetapi untuk menganalisa masalah dan menjelaskannya. Jadi mereka menekankan analisa logis terhadap bahasa. Trend analisa terhadap bahasa oleh Harry Hamersma dianggap mewarnai perkembangan filsafat pada abad XX, di mana filsafat cenderung bersifat Logosentrisme
D. Filsafat Ilmu Kontemporer
Perkembangan Filsafat Ilmu di zaman ditandai dengan munculnya filosof-filosof yang memberikan warna baru terhadap perkembangan Filsafat Ilmu sampai sekarang.
Muncul Karl Raymund Popper (1902-1959) yang kehadirannya menadai babak baru sekaligus merupakan masa transisi menuju suatu zaman yang kemudian di sebut zaman Filsafat Ilmu Pengetahuan Baru. Hal ini disebabkan Pertama, melalui teori falsifikasi-nya, Popper menjadi orang pertama yang mendobrak dan meruntuhkan dominasi aliran positivisme logis dari Lingkaran Wina. Kedua, melalui pendapatnya tentang berguru pada sejarah ilmu-ilmu, Popper mengintroduksikan suatu zaman filsafat ilmu yang baru yang dirintis oleh Thomas Samuel Kuhn.
Para tokoh filsafat ilmu baru, antara lain Thomas S. Kuhn, Paul Feyerabend, N.R. Hanson, Robert Palter dan Stephen Toulmin dan Imre Lakatos memiliki perhatian yang sama untuk mendobrak perhatian besar terhadap sejarah ilmu serta peranan sejarah ilmu dalam upaya mendapatkan serta mengkonstruksikan wajah ilmu pengetahuan dan kegiatan ilmiah yang sesungguhnya terjadi. Gejala ini disebut juga sebagai pemberontakan terhadap Positivisme.
Thomas S. Kuhn populer dengan relatifisme-nya yang nampak dari gagasan-gagasannya yang banyak direkam dalam paradigma filsafatnya yang terkenal dengan The Structure of Scientific Revolutions (Struktur Revolusi Ilmu Pengetahuan).
Kuhn melihat bahwa relativitas tidak hanya terjadi pada Benda yang benda seperti yang ditemukan Einstein, tetapi juga terhadap historitas filsafat Ilmu sehingga ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa teori ilmu pengetahuan itu terus secara tak terhingga mengalami revolusi. Ilmu tidak berkembang secara komulatif dan evolusioner melainkan secara revolusioner.
Salah seorang pendukung aliran filsafat ilmu Baru ialah Paul Feyerabend (Lahir di Wina, Austria, 1924) sering dinilai sebagai filosof yang paling kontroversial, paling berani dan paling ekstrim. Penilaian ini didasarkan pada pemikiran keilmuannya yang sangat menantang dan provokatif. Berbagai kritik dilontarkan kepadanya yang mengundang banyak diskusi dan perdebatan pada era 1970-an.
Memasuki abad XIX perkembangan Filsafat Ilmu memasuki Era Positivisme. Positivisme adalah aliran filsafat yang ditandai dengan evaluasi yang sangat terhadap ilmu dan metode ilmiah. Aliran filsafat ini berawal pada abad XIX. Pada abad XX tokoh-tokoh positivisme membentuk kelompok yang terkenal dengan Lingkaran Wina, di antaranya Gustav Bergman, Rudolf Carnap, Philip Frank Hans Hahn, Otto Neurath dan Moritz Schlick.
Pada penghujung abad XIX (sejak tahun 1895), pada Universitas Wina Austria telah diajarkan mata kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan Induktif. Hal ini memberikan indikasi bahwa perkembangan filsafat ilmu telah memasuki babak yang cukup menentukan dan sangat berpengaruh terhadap perkembangan dalam abad selanjutnya.
Memasuki abad XX perkembangan filsafat ilmu memasuki era baru. Sejak tahun 1920 panggung filsafat ilmu pengetahuan didominasi oleh aliran positivisme Logis atau yang disebut Neopositivisme dan Empirisme Logis. Aliran ini muncul dan dikembangkan oleh Lingkaran Wina (Winna Circle, Inggris, Wiener Kreis, Jerman). Aliran ini merupakan bentuk ekstrim dari Empirisme. Aliran ini dalam sejarah pemikiran dikenal dengan Positivisme Logic yang memiliki pengaruh mendasar bagi perkem-bangan ilmu. Munculnya aliran ini akibat pengaruh dari tiga arah. Pertama, Emperisme dan Positivisme. Kedua, metodologi ilmu empiris yang dikembangkan oleh ilmuwan sejak abad XIX, dan Ketiga, perkembangan logika simbolik dan analisa logis.
Secara umum aliran ini berpendapat bahwa hanya ada satu sumber pengetahuan yaitu pengalaman indrawi. Selain itu mereka juga mengakui adanya dalil-dalil logika dan matematika yang dihasilkan lewat pengalaman yang memuat serentetan tutologi -subjek dan predikat yang berguna untuk mengolah data pengalaman indrawi menjadi keseluruhan yang meliputi segala data itu.
Lingkaran Wina sangat memperhatikan dua masalah, yaitu analisa pengetahuan dan pendasaran teoritis matematika, ilmu pengetahuan alam, sosiologi dan psikologi. Menurut mereka wilayah filsafat sama dengan wilayah ilmu pengetahuan lainnya. Tugas filsafat ialah menjalankan analisa logis terhadap pengetahuan ilmiah. Filsafat tidak diharapkan untuk memecahkan masalah, tetapi untuk menganalisa masalah dan menjelaskannya. Jadi mereka menekankan analisa logis terhadap bahasa. Trend analisa terhadap bahasa oleh Harry Hamersma dianggap mewarnai perkembangan filsafat pada abad XX, di mana filsafat cenderung bersifat Logosentrisme
D. Filsafat Ilmu Kontemporer
Perkembangan Filsafat Ilmu di zaman ditandai dengan munculnya filosof-filosof yang memberikan warna baru terhadap perkembangan Filsafat Ilmu sampai sekarang.
Muncul Karl Raymund Popper (1902-1959) yang kehadirannya menadai babak baru sekaligus merupakan masa transisi menuju suatu zaman yang kemudian di sebut zaman Filsafat Ilmu Pengetahuan Baru. Hal ini disebabkan Pertama, melalui teori falsifikasi-nya, Popper menjadi orang pertama yang mendobrak dan meruntuhkan dominasi aliran positivisme logis dari Lingkaran Wina. Kedua, melalui pendapatnya tentang berguru pada sejarah ilmu-ilmu, Popper mengintroduksikan suatu zaman filsafat ilmu yang baru yang dirintis oleh Thomas Samuel Kuhn.
Para tokoh filsafat ilmu baru, antara lain Thomas S. Kuhn, Paul Feyerabend, N.R. Hanson, Robert Palter dan Stephen Toulmin dan Imre Lakatos memiliki perhatian yang sama untuk mendobrak perhatian besar terhadap sejarah ilmu serta peranan sejarah ilmu dalam upaya mendapatkan serta mengkonstruksikan wajah ilmu pengetahuan dan kegiatan ilmiah yang sesungguhnya terjadi. Gejala ini disebut juga sebagai pemberontakan terhadap Positivisme.
Thomas S. Kuhn populer dengan relatifisme-nya yang nampak dari gagasan-gagasannya yang banyak direkam dalam paradigma filsafatnya yang terkenal dengan The Structure of Scientific Revolutions (Struktur Revolusi Ilmu Pengetahuan).
Kuhn melihat bahwa relativitas tidak hanya terjadi pada Benda yang benda seperti yang ditemukan Einstein, tetapi juga terhadap historitas filsafat Ilmu sehingga ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa teori ilmu pengetahuan itu terus secara tak terhingga mengalami revolusi. Ilmu tidak berkembang secara komulatif dan evolusioner melainkan secara revolusioner.
Salah seorang pendukung aliran filsafat ilmu Baru ialah Paul Feyerabend (Lahir di Wina, Austria, 1924) sering dinilai sebagai filosof yang paling kontroversial, paling berani dan paling ekstrim. Penilaian ini didasarkan pada pemikiran keilmuannya yang sangat menantang dan provokatif. Berbagai kritik dilontarkan kepadanya yang mengundang banyak diskusi dan perdebatan pada era 1970-an.
Sumber: Perkembangan Filsafat Ilmu http://manusiapinggiran.blogspot.com/2013/03/perkembangan-filsafat-ilmu.html#ixzz2iqd6TIfS
Follow us: @fajar_berkata on Twitter
Perkembangan filsafat ilmu sejak tahun 1960
Perkembangan Filsafat Ilmu Sejak Tahun 1960
Semenjak
tahun 1960 filsafat ilmu mengalami perkembangan yang sangat pesat,
terutama sejalan dengan pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi yang
ditopang penuh oleh positivisme-empirik, melalui penelaahan dan
pengukuran kuantitatif sebagai andalan utamanya. Berbagai penemuan teori
dan penggalian ilmu berlangsung secara mengesankan.
Pada periode ini berbagai kejadian dan
peristiwa yang sebelumnya mungkin dianggap sesuatu yang mustahil, namun
berkat kemajuan ilmu dan teknologi dapat berubah menjadi suatu
kenyataan. Bagaimana pada waktu itu orang dibuat tercengang dan
terkagum-kagum, ketika Neil Amstrong benar-benar menjadi manusia pertama
yang berhasil menginjakkan kaki di Bulan. Begitu juga ketika manusia
berhasil mengembangkan teori rekayasa genetika dengan melakukan
percobaan cloning pada kambing, atau mengembangkan cyber technology,
yang memungkinkan manusia untuk menjelajah dunia melalui internet. Belum
lagi keberhasilan manusia dalam mencetak berbagai produk nano
technology , dalam bentuk mesin-mesin micro-chip yang serba mini namun memiliki daya guna sangat luar biasa.
Semua keberhasilan ini kiranya semakin
memperkokoh keyakinan manusia terhadap kebesaran ilmu dan teknologi.
Memang, tidak dipungkiri lagi bahwa positivisme-empirik yang serba matematik, fisikal, reduktif dan free of value telah
membuktikan kehebatan dan memperoleh kejayaannya, serta memberikan
kontribusi yang besar dalam membangun peradaban manusia seperti sekarang
ini.
Namun, dibalik keberhasilan itu, ternyata
telah memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak sederhana, dalam
bentuk kekacauan, krisis dan chaos yang hampir terjadi di
setiap belahan dunia ini. Alam menjadi marah dan tidak ramah lagi
terhadap manusia, karena manusia telah memperlakukan dan
mengexploitasinya tanpa memperhatikan keseimbangan dan kelestariannya.
Berbagai gejolak sosial hampir terjadi di mana-mana sebagai akibat dari
benturan budaya yang tak terkendali.
Kesuksesan manusia dalam menciptakan teknologi-teknologi raksasa ternyata telah menjadi boomerang
bagi kehidupan manusia itu sendiri. Raksasa-raksasa teknologi yang
diciptakan manusia itu seakan-akan berbalik untuk menghantam dan
menerkam si penciptanya sendiri, yaitu manusia.
Berbagai persoalan baru sebagai dampak
dari kemajuan ilmu dan teknologi yang dikembangkan oleh kaum
positivisme-empirik, telah memunculkan berbagi kritik di kalangan
ilmuwan tertentu. Kritik yang sangat tajam muncul dari kalangan penganut
“Teori Kritik Masyarakat”, sebagaimana diungkap oleh Ridwan Al Makasary
(2000:3). Kritik terhadap positivisme, kurang lebih bertali temali
dengan kritik terhadap determinisme ekonomi, karena sebagian atau
keseluruhan bangunan determinisme ekonomi dipancangkan dari teori
pengetahuan positivistik. Positivisme juga diserang oleh aliran kritik
dari berbagai latar belakang dan didakwa berkecenderungan mereifikasi
dunia sosial. Selain itu Positivisme dipandang menghilangkan pandangan
aktor, yang direduksi sebatas entitas pasif yang sudah ditentukan oleh
“kekuatan-kekuatan natural”. Pandangan teoritikus kritik dengan
kekhususan aktor, di mana mereka menolak ide bahwa aturan aturan umum
ilmu dapat diterapkan tanpa mempertanyakan tindakan manusia. Akhirnya “
Teori Kritik Masyarakat” menganggap bahwa positivisme dengan sendirinya
konservatif, yang tidak kuasa menantang sistem yang eksis.
Senada dengan pemikiran di atas, Nasution
(1996:4) mengemukan pula tentang kritik post-positivime terhadap
pandangan positivisme yang bercirikan free of value, fisikal, reduktif
dan matematika.
Aliran post-positivime tidak menerima adanya hanya satu kebenaran. Rich (1979) mengemukakan “There is no the truth nor a truth – truth is not one thing, – or even a system. It is an increasing completely” Pengalaman
manusia begitu kompleks sehingga tidak mungkin untuk diikat oleh sebuah
teori. Freire (1973) mengemukakan bahwa tidak ada pendidikan netral,
maka tidak ada pula penelitian yang netral.
Usaha untuk menghasilkan ilmu sosial yang bebas nilai makin ditinggalkan karena tak mungkin tercapai dan karena itu bersifat “self deceptive”
atau penipuan diri dan digantikan oleh ilmu sosial yang berdasarkan
ideologi tertentu. Hesse (1980) mengemukakan bahwa kenetralan dalam
penelitian sosial selalu merupakan problema dan hanya merupakan suatu
ilusi. Dalam penelitian sosial tidak ada apayang disebut “obyektivitas”.
“ Knowledge is a’socially contitued’, historically embeded, and valuationally.
Namun ini tidak berarti bahwa hasil penelitian bersifat subyektif
semata-mata, oleh sebab penelitian harus selalu dapat
dipertanggungjawabkan secara empirik, sehingga dapat dipercaya dan
diandalkan. Macam-macam cara yang dapat dilakukan untuk mencapai tingkat
kepercayaan hasil penelitian
Jelasnya, apabila kita mengacu kepada pemikiran Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions
(1962) bahwa perkembangan filsafat ilmu, terutama sejak tahun 1960
hingga sekarang ini sedang dan telah mengalami pergeseran dari paradigma
positivisme-empirik,–yang dianggap telah mengalami titik jenuh dan
banyak mengandung kelemahan–, menuju paradigma baru ke arah
post-positivisme yang lebih etik.
Terjadinya perubahan paradigma ini
dijelaskan oleh John M.W. Venhaar (1999:) bahwa perubahan kultural yang
sedang terwujud akhir-akhir ini, –perubahan yang sering disebut purna-modern,
meliputi persoalan-persoalan : (1) antihumanisme, (2) dekonstruksi dan
(3) fragmentasi identitas. Ketiga unsur ini memuat tentang berbagai
problem yang berhubungan dengan fungsi sosial cendekiawan dan pentingnya
paradigma kultural,– terutama dalam karya intelektual untuk memahami
identitas manusia.
==============
Daftar Pustaka - Achmad Sanusi,.(1998), Filsafah Ilmu, Teori Keilmuan, dan Metode Penelitian : Memungut dan Meramu Mutiara-Mutiara yang Tercecer, Makalah, Bandung :PPS-IKIP Bandung.
- Achmad Sanusi, (1999), Titik Balik Paradigma Wacana Ilmu : Implikasinya Bagi Pendidikan, Makalah, Jakarta : MajelisPendidikan Tinggi Muhammadiyah.
- Agraha Suhandi, Drs., SHm.,(1992), Filsafat Sebagai Seni untuk Bertanya, (Diktat Kuliah), Bandung : Fakultas Sastra Unpad Bandung.
- Filsafat_ Ilmu, members.tripod.com/aljawad/artikel/filsafat_ilmu.htm.
- Ismaun, (2001), Filsafat Ilmu, (Diktat Kuliah), Bandung : UPI Bandung.
- Jujun S. Suriasumantri, (1982), Filsafah Ilmu : Sebuah Pengantar Populer, Jakarta : Sinar Harapan.
- Mantiq, media.isnet.org./islam/etc/mantiq.htm.
- Moh. Nazir, (1983), Metode Penelitian, Jakarta : Ghalia Indonesia
- Muhammad Imaduddin Abdulrahim, (1988), Kuliah Tawhid, Bandung : Yayasan Pembina Sari Insani (Yaasin)
Jumat, 25 Oktober 2013
TERJEMAHAN SILABUS TEK ENGLISH
Subjek : STUDI BAHASA INGGRIS TEXT
SKS : 0 kredit
Semester : I
Dosen : Dr H. Abdullah Hasan M.Sc
Keterangan :
ENGLISH STUDI TEKS bertujuan untuk membantu mahasiswa pasca-sarjana memperoleh keterampilan membaca yang diperlukan . Subjek ini juga bertujuan untuk memberikan para siswa mampu menguasai berbagai teks Membaca terutama " Pendidikan Islam " dan dapat membaca secara efektif dan efisien dan memahami serta memahami berbagai teks bahasa Inggris . Kemudian , TOEFL Preparation disediakan untuk siswa agar dapat duduk untuk Test TOEFL .
Tujuan: siswa dapat :
1 . Cari tahu kalimat topik dan petunjuk konteks
2 . Mengidentifikasi ide utama dan detail pendukung
3 . Apakah skimming dan scanning untuk membaca teks
4 . Membuat kesimpulan , ulangan dan ungkapan
5 . Menulis ringkasan dan menceritakan kembali bagian atau teks dalam / kata-katanya sendiri
6 . Duduk untuk Test TOEFL dengan skor minimal 400 .
topik :
1 . Pengantar Silabus dan referensi .
2 . Memahami dan mengidentifikasi kunci dari kalimat lengkap
3 . Identifikasi kalimat topik dan gagasan utama.
4 . Cari tahu rincian utama dan detail kecil .
5 . Apakah skimming dan scanning membaca teks
6 . Membaca Teks diskusi : Agama Islam
7 . Membaca Teks diskusi : Berdoa
8 . Membaca Teks diskusi : Sumber Pengetahuan
9 . Membaca Teks diskusi : Pendidikan Islam (bahan Teks dari jurnal internet )
10 . Membaca Teks diskusi : Pendidikan Islam ( Lanjutan ) .
11 . Membaca Teks diskusi : Pendidikan Islam ( Lanjutan )
12 . Pengantar TOEFL : Mendengarkan .
13 . Pengantar TOEFL : Struktur dan Ekspresi Tertulis .
14 . Pengantar TOEFL : Pemahaman Membaca
15 . TOEFL Pos Test.
16 . final Test
Referensi :
1 . Abdullah Hasan ( 2011) " Bahasa Inggris untuk Studi Islam " UIN SUSKA
2 . Wassman dan Lee Ann Rinsky ( 2002) Membaca Efektif dalam Dunia chaning ,
3 . Artikel teks pada jurnal Pendidikan Islam dari internet .
4 . Cliff " prepation TOEFL .
5 . Barron " prepation TOEFL .
UNIT 1
THE AGAMA ISLAM
A. MENDENGARKAN .
Pilihlah jawaban yang benar di antara a, b , atau c untuk melengkapi pernyataan atau informasi yang Anda dengar
1 . a . untuk menerima 2 . a . perdamaian 3.a. khawatir 4 . a . 5.a. B.C sumber daya
b . untuk menerima b . sukses b . b tertunda . A.D b.obediences
c . percaya c . Master c . turunkan c . SAW c . atribut
6 . a . Al - Quran 7 . a . Al - Hadits 8.a. berdoa 9 . a . puasa 10.a. wasiat
b . Al - Hadits b . Al - Quran b . puasa b . berdoa b . ziarah
c . Al - Ikhlas c . Al - Iman c . bukti c . ziarah c . berdoa
B. BERBICARA
1.Practice dialog ini .
Amir : Permisi , Ali .
Ali : Sesungguhnya . Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda ?
Amir : Bisakah Anda ceritakan apa yang Islam "berarti ?
Ali : Ya , tentu saja. Arti harfiah , "Islam " adalah menerima , untuk mengikuti dan menaati . Oleh karena itu, kita semua harus mentaati perintah Allah baik dalam kata-kata atau dalam perbuatan .
Amir : Dan apa saja sumber Islam ?
Ali : Mereka adalah Al - Quran dan Al - Hadits .
Amir : Apakah Anda menjelaskan kepada saya tentang mereka ?
Ali : Ya . Al -Qur'an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW , dan Sunnah adalah tradisi nabi
Amir : Apa SAW berdiri?
Ali : saw .
Amir : Oh , saya melihat . terima kasih
Ali : Terima kasih .
2 . Berikan jawaban Anda sendiri berdasarkan pertanyaan !
Siti : Berapa banyak agama yang ada di Indonesia?
Ani : ....................................................
Siti : Apa itu?
Ani : ...................................................
Siti : Apa kitab suci masing-masing agama ?
Ani : ...................................................
Siti : Bagaimana persentase orang Islam di Indonesia ?
Ani : ........................................................
Siti : Bagaimana menurut Anda hubungan antar jamaah agama di Indonesia?
Ani : ........................................................
C. READING
Bacalah kutipan berikut .
Kata ' Islam ' yang berasal dari bahasa Arab , artinya menerima , untuk mengikuti dan menaati . Agama Islam adalah penerimaan dan ketaatan kepada ajaran Allah yang Dia mengungkapkan hal itu kepada nabi terakhirnya , Muhammad saw . Dengan kata lain , Islam mengikuti Tuhan , Sang Guru . Allah adalah Pencipta dan Guru kita . Kesuksesan kami dalam hidup bergantung sepenuhnya pada mengikuti Guru . Oleh karena itu, kita semua harus menaati perintah-Nya , baik dalam kata-kata atau dalam perbuatan . Tapi Tuhan marilah kita bebas untuk menaati atau tidak menaati-Nya . Hidup itu seperti ujian. Keberhasilan pengambil tes adalah orang yang menaati Allah . Dengan kata lain , keberhasilan nyata dalam kehidupan ini dan kehidupan setelah kematian adalah menaati Allah . Kedamaian sejati juga terletak hanya pada Allah berikut . Kata Islam juga berarti perdamaian. Islam adalah perdamaian melalui ketaatan kepada Allah , Sang Pencipta dan Sang Guru . Islam adalah agama dari Allah yang mengarah pengikut-Nya untuk mendapatkan kedamaian sejati .
Muslim percaya dalam satu , unik , tak tertandingi Tuhan, yang tidak memiliki anak atau pasangan , dan tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Dia adalah Allah yang benar , dan setiap dewa lainnya adalah palsu . Dia memiliki nama yang paling megah dan atribut yang sempurna luhur . Tidak ada saham keilahian-Nya , atau atribut-Nya . Dalam Al Qur'an , Allah menggambarkan diri-Nya :
Katakanlah ! " Dia adalah Allah , Satu . Tuhan untuk Siapa makhluk berpaling untuk kebutuhan mereka . Dia melahirkan tidak, juga tidak Dia diperanakkan , dan tidak ada yang seperti Dia " ( Qur'an ,112:1 - 4 )
Ada dua sumber dari agama Islam . Sumber-sumber adalah Al-Quran dan Sunnah . Al Qur'an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad , dan Sunnah adalah tradisi nabi dan berkata . Al-Qur'an adalah petunjuk dari Allah untuk semua manusia-manusia . Oleh karena itu , kata-kata Tuhan yang ditulis dalam Al-Qur'an / harus dibaca oleh semua manusia . Allah ingin semua manusia untuk menjadi bahagia di dunia dan dalam kehidupan akhirat dengan memberikan bimbingan dan aturan tertulis dalam Al Qur'an . Oleh karena itu , semua orang yang ingin bahagia dan aman dalam kehidupan mereka harus tahu apa yang dikatakan oleh Allah dalam Al-Qur'an . Kebahagiaan yang terletak pada ketaatan mereka kepada tuntunan Tuhan .
Jawablah pertanyaan-pertanyaan !
1 . Apa arti ' Islam ' berarti ?
2 . Apa itu Islam ?
3 . Apa ide utama paragraf pertama ?
4 . Bagaimana Allah kita ?
5 . Sebutkan ayat-ayat al- Qur'an bagaimana Allah menggambarkan diri-Nya !
6 . Tolong jelaskan arti dari ayat-ayat !
7 . Apa yang ada dalam bahasa Arab ? " Tidak ada yang berhak disembah selain Dia saja "
8 . Apa yang ada dalam bahasa Arab ? "Dan tidak ada yang seperti Dia ?
9 . Bagaimana harus kita semua mematuhi perintah Allah ?
10 . Bagaimana 'hidup' terlihat seperti ? Apa artinya ?
11 . Apa ide utama paragraf kedua ?
12 . Apa dua sumber dalam Islam?
13 . Apa itu al -Qur'an ?
14 . Apa yang Allah ingin semua manusia untuk ?
15 . Apa yang kita sebut ' apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ?
UNIT 2
DOA ( AS- Shalah )
A. MENDENGARKAN
Isi bagian yang kosong dengan kata-kata yang benar berdasarkan teks yang Anda dengar .
Muslim melakukan shalat lima waktu sehari. Mereka tampil di ...... ( 1 ) ... , siang , sore hari , ....... ( 2 ) ..... , dan malam . Doa dalam Islam adalah hubungan langsung antara ....... ( 3 ) ..... dan Allah . Tidak ada ........ ( 4 ) ......... antara Allah dan penyembah .
Sebelum melakukan shalat , kita harus mengambil ...... ( 5 ) ...... Doa dapat diimplementasikan baik sendiri atau ....... ( 6 ) ........ , tetapi lebih baik bagi kita untuk melakukan shalat berjamaah karena memiliki 27 kali lebih banyak ... ...... ( 7 ) ......... dibandingkan dengan doa saja . Ini menciptakan ikatan kasih dan ...... ( 8 ) ........ pemahaman di kalangan umat Islam , dan juga demonstrasi yang paling indah ....... ( 9 ) ........ yang ada di kalangan umat Islam . Miskin dan kaya , pemerintah dan yang diperintah , dan orang-orang dari semua latar belakang etnis berdiri bersama , bahu-membahu , untuk menyembah dan ...... ( 10 ) ...... diri di hadapan Tuhan mereka , Allah Swt .
B. BERBICARA
Dilakukan di sepasang atau sekelompok empat .
Baca teks di atas dan membuat ' tanya jawab ' setidaknya 5 kemudian mempraktekkannya. Contoh : X : Berapa kali doa kita harus melakukan sehari?
Y : 5 kali sehari
X : Kapan mereka tampil ?
Y : .................................. dll
C. READING
Bacalah kutipan berikut .
Dari semua kemungkinan ibadah diresepkan untuk kita oleh Allah , yang paling penting adalah doa atau as- Shalah . Allah berfirman dalam Al Qur'an " Oh percaya , mencari bantuan dalam kesabaran dan Shalah " ( Al - Baqarah 2:153 )
As- Shalah biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai kata " doa " . Ini adalah terjemahan miskin, karena Shalah , sementara merujuk sebagian tindakan doa atau ' Do'a ' , lebih tepat diterjemahkan sebagai tindakan lengkap jika ibadah yang mencakup doa. Sedangkan doa ( Do'a ) dapat ditawarkan kapan saja dan dalam situasi apapun . Allah telah memerintahkan kita untuk mengamati tindakan pengabdian dan doa yang disebut sebagai - Shalah pada waktu tertentu dalam sehari dan malam sambil menghadap ke arah yang tepat dari Baital " TIQ di Makkah .
Jika kita mencari semua ayat-ayat tentang Shalah dan membaca apa yang Allah berkata , kita akan menemukan bahwa Allah telah diresepkan lima kali untuk Shalah kami . Mengenai hal ini , kami Nabi Muhammad SAW ( saw ) meminta temannya ( sohabat ) , "Apakah kamu percaya kotoran yang dapat tetap pada orang yang menggenangi lima kali sehari di sungai yang berjalan di depan pintu rumahnya ? " " Tidak ada " , jawab teman ( sohabat ) , " tidak ada kotoran dapat tetap di tubuhnya . " Rosullullah sAW lalu berkata , ini adalah persis efek dari Shalah menawarkan lima kali sehari . Apalagi dengan karunia Allah itu menyapu semua dosa . "
Zaman Shalah adalah di pagi hari sebelum matahari terbit , pada tengah hari tepat setelah matahari telah melewati titik tertinggi , di sore hari ketika matahari mulai miring , di malam hari setelah matahari telah terbenam , dan pada malam ketika langit menjadi gelap dan bintang-bintang bersinar .
Kinerja Shalah merupakan tindakan ganda ketaatan . Dalam melaksanakan Shalah kami, kami mematuhi baik Allah dan Rasulullah . Kami benar-benar mematuhi Rosulullah dan ikuti apa yang dia lakukan , karena kita tahu bahwa itu adalah Allah yang mengajarinya bagaimana dan apa yang harus dilakukan dalam rangka untuk melaksanakan Shalah tersebut . Ia mengajarinya ini selama waktu Perjalanan Isra Mi'raj ( Al- Isra ' ) ketika ia naik ( al Mi'raj0 ke surga tertinggi . Dia dengan Pohon Batas terluar ( Sidrat al - muntaha ) di dekat tempat yang taman Pengungsi Ultimate ( Jannatu al - Ma'wa ) tempat di mana bahkan Malaikat Jibril tidak mampu untuk pergi .
As- Shalah adalah benar-benar mengikat (wajib ) Commandement Allah mewajibkan semua umat Islam dewasa waras . Ketika kita kehilangan Shalah kita melakukan dosa besar , yang harus bertobat untuk kemudian ' dibuat ' . Meskipun demikian, kita harus memahami bahwa kita hanya membuat up apa yang telah terjawab dalam waktu, tetapi tidak akta sebenarnya dari Shalah , yang hilang selamanya .
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut .
1 . Apa perbedaan antara ' doa ' dan ' as- Shalah ' ?
2 . Harap menyebutkan dan menjelaskan ayat al - Baqarah 153 !
3 .
4 . Dimana arah kami ketika kami tampil sebagai - Shalah ?
5 . Apa ide utama paragraf pertama ?
6 . Kapan nabi kita Muhammad SAW menerima perintah as- Shalah ?
7 . Ketika kita menerapkan lima kali sebagai - Shalah ?
8 . Apa ' dia ' lihat ? ( di alinea keempat )
9 . Bagaimana kita melakukan as- Shalah ?
10 . Apa alinea keempat membahas ?
11 . Apa yang terjadi pada mereka yang kehilangan as- Shalah ?
Berikan atau menyatakan jawaban Anda sendiri !
12 . Tolong jelaskan dan bertindak langkah-langkah dan tindakan as- Shalah .
13 . Jelaskan dan bertindak langkah-langkah dari Wudhu ' .
14 . Berikan lima manfaat yang datang dari menawarkan as- Shalah berjamaah .
15 . Mengapa kita harus tampil sebagai - Shala ?
16 . Sebutkan dan jelaskan salah satu ayat lain al -Qur'an berurusan dengan
Langganan:
Postingan (Atom)
